Buntut Perusakan Kantor Desa

Polisi Turunkan Personel

Selasa, 22 Desember 2020 - 13:02:52 WIB

SAROLANGUN - Kapolres Sarolangun AKBP Sugeng Wahyudiono mengatakan, sudah menurunkan personel ke Desa Lubuk Bedorong, Limun, Sarolangun. Ini dilakukan untuk mengantisipasi keributan susulan.

 

Selain itu, Segeng menyebutkan jika pelaku Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) khususnya yang beroperasi di hutan Areal Penggunaan Lain (APL) milik Desa Lubuk Bedorong, akan ditindak tegas. 

 

?

 

"Hari ini kita turun ke lapangan menghadiri rapat di Desa Lubuk Bedorong, kita tunggu dulu hasilnya. Intinya apapun keputusan rapat nanti, yang jelas aktivitas PETI tetap dilarang, pelaku akan kita tindak,” tegasnya, Senin (21/12).

 

?

 

Dia mengatakan bahwa pihaknya masih mengusut motif pemicu warga merusak kantor Desa Lubuk Bedorong pada Sabtu (19/12) lalu. 

 

Menurutnya, ada banyak kejanggalan yang terjadi, mulai dari warga merusak kantor desa, hingga terjadi perlawanan antar sesama warga setempat.

 

“Ada informasi lain di balik peristiwa keributan,” ujarnya.

 

Sekadar diketahui, Kantor Desa Lubuk Bedorong rusak parah diserang ratusan warga setempat, Sabtu (19/12) lalu. Informasinya, sejumlah fasilitas kantor desa sengaja dirusak warga, lantaran kesal dengan Kepala Desa yang tidak mengindahkan ajakan warga untuk melakukan mediasi.

 

?

 

Pantauan di lapangan, ada bebarapa fasilitas kantor yang dirusak. Di antaranya, lemari kantor desa dan dokumen-dokumen penting, seluruh kaca jendela pecah, dan beberapa aset berharga lainnya.

 

“Panggang, panggang,” teriak sejumlah warga, Sabtu (19/12).

 

Jakpar (52), salah satu warga yang ikut dalam aksi tersebut, mengungkapkan, pemicu kemarahan warga ini terjadi lantaran eskavator PETI, masih beroperasi dan merambah wilayah hutan APL milik warga setempat. Sampai kini, persoalan tersebut belum diselesaikan oleh pemerintahan desa.

 

?

 

Kata dia, kantor desa sengaja menjadi sasaran utama setelah Kades tidak mengindahkan permintaan warga untuk melakukan mediasi. Di sisi lain, warga menduga, jika kades setempat juga ikut terlibat dalam aktivitas penambangan emas terlarang itu.

 

"Warga lah terlanjur muak dengan Kades. Kalau dak becus ngusir eskavator ko, mundur be lah jadi Kades. Kami dak membutuhkan pemimpin yang mendukung eskavator masuk merusak hutan kami,” katanya.

 

Lanjut Jakpar, setelah menghantam kantor desa, massa kemudian bergerak menuju kediaman Kades. Namun sesampainya di sana, warga sempat dihadang keluarga Kades, sehingga terjadi perlawan dan bentrok pun tak terelakkan. 

 

?

 

“Niat kami dakdo nak ribut. Apo dak ribut nengok keluarganyo nyegat kami dan teriak-teriak mintak jantan,” akunya. (skm/enn)






BERITA BERIKUTNYA

loading...