Terungkap dalam Sidang Gratifikasi Fee Proyek dengan Terdakwa Arfan

Rudi Lidra Percikkan ke Puluhan Staf PUPR

Jumat, 16 Oktober 2020 - 10:30:12 WIB

SIDANG: Salah satu saksi dihadirkan penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada sidang dugaan grativikasi yang menyeret Arfan, Plt Kadis PUPR Provinsi Jambi, kemarin (15/10).
SIDANG: Salah satu saksi dihadirkan penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada sidang dugaan grativikasi yang menyeret Arfan, Plt Kadis PUPR Provinsi Jambi, kemarin (15/10).

JAMBI – Rudi Lidra, merupakan satu dari 10 saksi dihadirkan penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada sidang dugaan grativikasi yang menyeret Arfan, Plt Kadis PUPR Provinsi Jambi, kemarin (15/10).

 

Sementara saksi lain adalah Endria Putra, Cecep Suryana, Mantes Abrianto, Eka Ardi Saputra, Suarto, Asril Hamdi, Khalis Mustiko, Arwin Rosyadi, dan Agus Rubiyanto mantan Ketua DPRD Tebo.

 

?

 

Ada yang menarik dari keterangan Rudi Lidra dalam sidang itu. Ia menyerahkan uang sebesar Rp 1 miliar kepada Arfan secara beratahap. Hanya saja, uang itu diakui sebagai pinjaman dengan jaminan tiga sertifikat. Ketiga sertifikat jaminan atas nama istri Arfan.

 

?

 

“Saya sudah berusaha menolak dengan alasan tidak ada uang sebanyak itu. Waktu itu dia telpon saya, katanya pinjam uang, kemudian saya tanya berapa, lantas Arfan menjawab Rp 1 miliar. Saya bilang tidak ada sebanyak itu,” katanya.

 

Penuntut umum tidak langsung percaya, karena empat kali sambungan telepon hasil sadapan KPK, terungkap jika saksi Rudi Lidra lebih aktif menghubungi terdakwa Arfan. Bahkan beberapa kali bertemu di restoran. Salah satu restoran di kawasan Talang Banjar, Kota Jambi.

 

?

 

“Saat itu Arfan mau pinjam uang. Saya jawab lagi tidak ada uang sebanyak itu. Arfan juga mau minta fee proyek sama saya, tapi tidak langsung saya barikan,” tegasnya.

 

Berselang beberapa waktu, lanjutnya, Arfan kembali menelpon untuk pinjam uang dengan jaminan tiga sertifikat tanah. “Dia (Arfan) telepon lagi, tetap mau pinjam uang. Lalu saya bilang, ada jaminan nggak? Lalu Arfan menyerahkan tiga sertifikat tanah atas nama istrinya. Kalau tanggal saya lupa, kejadian itu sekitar Oktober 2017,” ungkapnya.

 

?

 

Dia menambahkan tidak ada perjanjian terikat pinjaman uang kepada terdakwa. Hanya sebatas lisan mereka. “Tapi Arfan memang berikan sertifikat tanah itu. Sekarang sertifikat itu sudah disita penyidik KPK,” kata saksi dalam sidang yang dipimpin ketua majelis hakim, Yandri Roni.

 

“Karena apa saksi mau menyerahkan uang kepada terdakwa Arfan? Apakah kedekatan pribadi? Atau terdakwa sebagai Plt Kadis PUPR?” tanya hakim Yandri Roni kepada para terdakwa. Para kontraktor “kakap” Jambi itu, mengaku menyanggupi memberikan uang dalam jumlah besar kepada Arfan karena ada dan dapat proyek di Dinas PUPR. Selain itu, karena jabatan Arfan sebagai Plt Kadis PUPR Provinsi Jambi.

 

Selain pinjaman, terungkap dalam sidang jika Rudi Lidra, melalui stafnya, memberikan uang kepada puluhan staf dan panitia proyek di Dinas PUPR Provinsi Jambi. Kisaran uang yang diberikan sebesar Rp 5 juta sampai Rp 10 juta, per orang.

 

?

 

Bahkan dalam BAP penyidik KPK terungkap, uang itu diberikan untuk 30 staf dan pegawai PUPR. “Dalam BAP jumlah staf PUPR yang saudara saksi berikan berjumlah puluhan orang,” ungkap ketua majelis hakim.

 

“Itu uang pribadi saya, jumlah tidak besar. Antara Rp 5 juta sampai Rp 10 juta per orang. Sebagai ucapan terima kasih saya saja, mereka tidak pernah meminta,” jawab Rudi Lidra. 

 

Dalam kesaksiannya, Eka Ardi Saputra yang merupakan direktur PT Cipayung Bakti Mandiri menyebutkan bahwa ada pencairan untuk pekerjaan di Dinas PUPR Provinsi Jambi, hanya saja dia tidak tahu berapa jumlahnya. "Kalau pencairan ada, cuma jumlah tidak tahu, karena waktu itu saya belum direktur, saat itu direkturnya pak Cecep," katanya.

 

?

 

Dia juga mengaku sempat mengantar uang kepada Arfan, sebanyak dua kali. "Kalau jumlah saya tidak ingat, yang jelas pertama yang saya antar pake tas, yang kedua pakai kantong asoi," tambahnya.

 

Sementara Cecep Suryana, mengatakan bahwa Arfan sempat meminta uang kepadanya untuk keperluan operasional di Dinas PUPR Provinsi Jambi. "Itu sekitar September 2017, sempat minta uang, tapi saya tidak kasih. Saya cuma bilang nanti dibantu, katanya untuk operasional," kata Cecep.

 

Tidak hanya satu kali, Arfan ternyata telah meminta ada dua kali meminta uang. Tapi bahasanya pinjam uang. "Dia (Arfan, red) minta tolong dua kali, seingat saya pertama Rp 100 juta, ternyata uang yang dibutuhkan Arfan diberikan oleh Endria. Kalau dari cerita, total yang diberikan Endria sebesar Rp 1,5 miliar. Saya tidak tahu dari mana asal uang itu," tegasnya.

 

Keterangan Cecep langsung dikonfrontir pada Endria Putra. Endria membenarkan memberikan uang sebanyak dua kali, senilai Rp 1,5 miliar. Uang diantarkan sebanyak dua kali. "Ada (menyerahkan uang), pertama diantar Eka Ardi Saputra sejumlah Rp 1,3 miliar dan kedua Rp 200 juta," kata Endria.

 

Saat ditanya apakah uang itu telah diterima oleh Arfan, Endria tidak tahu sebab tidak mengantarkan secara langsung. "Uang itu telah diterima Arfan, dia bilang sendiri sama saya saat ketemu di salah satu hotel Swiss Bell," akunya.

 

Terkait untuk apa Endria memberikan uang sebanyak Rp 1,5 miliar, lantas Hendria memberikan keterangan bahwa itu adalah sebuah pinjaman. “Itu dia (Arfan) pinjam, tapi tidak ada perjanjian di antara kami," tegasnya.

 

Agus Rubiyanto dalam perkara ini masih menjabat sebagai Ketua DPRD Tebo, menjelaskan hubunganmua dengan Zumi Zola, Apif Firmansyah, dan terdakwa Arfan. “Apif itu teman kuliah, kalau Zumi Zola dulu saya masuk tim pemenangan ketika mencalonkan diri sebagai Gubernur Jambi. Sedangkan kenal Arfan waktu ada pelebaran jalan di Tebo. Waktu itu masih Kabid Bina Marga,” jelasnya.

 

Penuntut umum KPK terus menggali fee proyek jalan di Tebo. Namun, Agus menyebut bahwa dia tidak tahu. “Kalau ada fee proyek, saya tidak tahu sama sekali,” sebut Agus.

 

Usai persidangan penasehat hukum Arfan, Helmi mengatakan bahwa sudah jelas bahwa ada uang yang tidak diterima dari kasus gratifikasi itu, sebab pengakuan saksi sesuai dengan keterangan kliennya.

 

“Dalam persidangan jelas, uang Rp 1 miliar dari Rudi Lidra itu pinjaman bukan hadiah taupun fee proyek. Dengan petunjuk ini akan jadikan bahan pertimbangan saat pembelaan terdakwa,” tandasnya. (ira)






BERITA BERIKUTNYA

loading...