Oleh : Revino Merbolin, S.Kom., M.Kom. (Fungsional Perencana Ahli Muda Bappeda Merangin)

Trend Kasus Positif Covid 19 Indonesia Terus Meningkat, Kenapa ?

Rabu, 16 September 2020 - 18:09:47 WIB

Virus Corona masih terus menyebar diberbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Sejak diumumkan pertama kali pada 2 Maret 2020 lalu, penambahan kasus virus Covid-19  di Indonesia terus mengalami penambahan. Jumlah kasus Covid-19 secara keseluruhan telah mendekati angka 200.000 orang dengan angka kematian akibat                 Covid-19 sendiri telah mendekati                      10.000 orang.

Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat korban terinfeksi. Peningkatan ini pastinya dikeluhkan oleh semua pihak termasuk masyarakat karena berbagai cara telah dilakukan untuk membuat kurva penyebaran menurun, namun kenyataannya jumlah korban terus mengalami peningkatan.

  1. Mike Ryan selaku direktur kedaruratan WHO, memperingatkan bahwa virus Corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 tak akan hilang. Vaksin yang ada saat ini berfungsi untuk mencegah penularan virus Corona SARS-CoV-2 agar tidak menginfeksi tubuh dan bukan untuk menghilangkan virus tersebut.

Akhirnya Pemerintah Indonesia mulai mengkampanyekan untuk hidup berdampingan dengan Covid-19. Hidup berdampingan dengan Covid-19 bukan berarti menyerah dan pesimistis, justru itu menjadi titik tolak menuju tatanan kehidupan baru masyarakat atau yang disebut new normal. Fase new normal sendiri diambil untuk pemulihan ekonomi.

Fase New Normal harus diikuti dengan penerapan Protokol kesehatan ketat yang harus dipatuhi antara lain menjaga jarak aman (social distancing), selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengenakan masker, serta membatasi perjalanan yang tidak perlu.

Sudah lebih dari 8 bulan sejak kasus pertama Covid-19 diidentifikasi di Wuhan China., Namun, trend secara umum menunjukkan penambahan kasus baru Covid-19 terus terjadi. Jika dilihat ada beberapa penyebab kenapa di Indonesia jumlah kasus Covid-19 terus meningkat.

  1. Peningkatan Kapasitas Tes

Awalnya negara-negara lain termasuk Indonesia hanya melakukan pengetesan orang-orang yang telah benar-benar sakit dan pernah kontak erat dengan pasien saja. Namun melihat  epidemi yang makin berkembang, tes telah menjadi sebuah instrument wajib yang harus dilakukan. Program pengetesan telah mencakup proporsi yang lebih tinggi termasuk bagi mereka yang menunjukkan gejala ringan atau tanpa gejala sama sekali.

Jumlah spesimen yang diperiksa baru sebanyak 2,43 juta dari 1,4 juta orang di Indonesia. Dari hasil pemeriksaan tersebut ternyata rasio kasus positif sebesar 13,8%, Angka tersebut masih dibawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 268 juta.

Pemerintah wajib memiliki perencanaan yang komperhensif dalam melakukan tes serta menentukan berapa jumlah laboratorium yang dibutuhkan dalam satu daerah. Sarana dan prasarana lain dalam pemeriksaan juga harus disiapkan. Termasuk distribusi reagen untuk pemeriksaan harus dihitung agar tidak kekurangan di sebuah daerah.

 

 

  1. Mobilitas dan Interaksi Sosial

Walaupun pemerintah sudah membuat kebijakan social distancing nyatanya jumlah kasus positif masih bertambah.

Hal ini disebabkan karena masyarakat belum sepenuhnya patuh terhadap aturan yang telah dibuat pemerintah serta ketidakjelasan dalam perumusan kebijaka. Kebijakan yang tidak sinkron dan tidak tegas juga menimbulkan celah yang akhirnya membuat masyarakat melanggar protokol pencegahan                Covid-19.

  1. Pemahaman dan Kesadaran Masyarakat

Rendahnya pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan yang telah disampaikan Pemerintah juga berperan menyebabkan peningkatan jumlah korban.

Alasan lain orang dengan gejala virus corona takut melaporkan dirinya karena mengkhawatirkan stigma masyarakat serta tindak diskriminasi lainnya.
Jika masyarakat disiplin, memiliki kesadaran tinggi, mau melindungi sesama, social distancing pun mampu untuk menahan laju penyebaran              Covid-19.

 

 

  1. Belum dinilai bahaya

Walaupun Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 tiap hari mengumumkan penambahan kasus positif infeksi, hal tersebut bagi sebagian masyarakat hanya dilihat sebagai angka belaka.

Dikarena angka-angka tersebut tidak nyata hadir di dekat mereka. Seingga bahaya dari Covid-19 tidak disadari, kecuali bagi mereka yang tinggal di zona merah penyebaran Covid-19 atau yang bersinggungan dengan kasus tersebut.

  1. Desakan Ekonomi

Desakan ekonomi juga menyebabkan jumlah korban virus corona terus mengalami peningkatan. Desakan eomini  menjadi hal yang dilema karena masyarakat juga tidak bisa terus berdiam diri di rumah tanpa penghasilan sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

Pemerintah telah berupaya untuk mengatasinya dengan bantuan serta memberikan diskon pada sektor-sektor industri yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti, listrik.

Akibat dari distribusinya kurang baik sehingga banyak masyarakat yang seharusnya menerima tapi tidak mendapatkan bantuan sementara masyarakat yang seharusnya tidak menerima justru menerima.

Berpegang pada prinsip ‘tidak mau mati kelaparan’ memaksakan diri masyarakat tetap bepergian dan melakukan aktivitas ekonomi ditengah pandemi Covid-19 dengan mengabaikan protokol kesehatan.






BERITA BERIKUTNYA

loading...