Harus Jadi Perhatian Serius

Jangan Sampai Pasar Jadi Klaster Baru

Jumat, 12 Juni 2020 - 11:38:14 WIB

ANGSODUO: Kondisi Pasar Angso Duo Modern, sebelum wabah Covid-19 melanda Jambi. DPP Ikappi meminta pemerintah memberi perhatian serius, terhadap kedisiplinan penerapan protokol kesehatan di pasar.
ANGSODUO: Kondisi Pasar Angso Duo Modern, sebelum wabah Covid-19 melanda Jambi. DPP Ikappi meminta pemerintah memberi perhatian serius, terhadap kedisiplinan penerapan protokol kesehatan di pasar.

BANGKO-INDEPENDENT.COM, JAKARTA - Pasar tradisional berpotensi menjadi klaster baru penyebaran COVID-19 di masa new normal atau normal baru. Sebab ratusan pedagang pasar dari berbagai daerah teridentifikasi positif virus corona baru tersebut. Bahkan puluhan di antaranya meninggal dunia.

Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Reynaldi Sarijowan mengatakan berdasarkan data yang diperolehnya pada Rabu (10/6) sedikitnya ada 439 pedagang di 89 pasar di berbagai daerah positif COVID-19. Sedangkan jumlah pedagang yang meninggal akibat COVID-19 mencapai 27 orang.

"Kami telah melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah di beberapa provinsi. Selain itu beberapa daerah telah menjalani rapid test atau swab di pasar. Tujuannya agar pasar tidak menjadi klaster baru penyebaran," ujarnya, Kamis (11/6).

Dilanjutkan Reynaldi, jumlah tersebut akan semakin bertambah. Sebab sejumlah daerah masih terus melakukan rapid test maupun swab. Misalnya, lanjutnya, sebanyak 52 pedagang di beberapa pasar di Jakarta terkonfirmasi terpapar COVID-19. Data tersebut berdasarkan hasil uji usap (swab test) yang terakhir keluar pada Kamis 11 Juni pukul 10.00 WIB.

Uji usap tersebut dilakukan setelah sebelumnya mereka menjalani tes cepat (rapid test) dan dinyatakan reaktif COVID-19. "Data pedagang pasar terdampak COVID-19 di Jakarta 52 orang," ujarnya. Pedagang yang terpapar virus dari Wuhan, China, ini diperoleh di lima lokasi pasar dari 19 pasar yang telah melaksanakan rapid test. Pasar-pasar tersebut di antaranya Pasar Perumnas Klender, Pasar Cijantung, dan Pasar Serdang.

Melihat kondisi demikian, Reynaldi meminta agar pemerintah memberi perhatian serius terutama kedisiplinan penerapan protokol kesehatan. Sebab pasar adalah sumber ekonomi dan sumber kebutuhan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia.

"Perhatian serius yang diharapkan dari pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan di pasar tersebut adalah dengan cara sosialisasi protokol kesehatan; imbauan kesadaran melaksanakan protokol kesehatan hingga penyediaan hand sanitizer dan penyemprotan disinfektan," katanya.

Dia yakin, jika penerapan protokol kesehatan di pasar berjalan baik, maka aktivitas jual beli akan tetap menjadi pilihan masyarakat tanpa harus takut adanya penyebaran COVID-19.

"Namun bila protokol kesehatan gagal diterapkan dan tingkat penyebaran COVID cukup tinggi di pasar, maka tidak menutup kemungkinan budaya belanja ke pasar tradisional akan bergeser dengan berbelanja menggunakan cara/sistem yang lain," katanya.

Reynaldi juga mengatakan pihaknya telah menyebar panduan singkat protokol bagi pengelola dan para pedagang yang mudah dipahami. Di antaranya pengturan ulang jarak lapak antar pedagang. Lalu, pengelola pasar melakukan tes suhu kepada pengunjung sebelum masuk pasar.

"Pengelola pasar atau pedagang juga harus mempersiapkan sekat plastik antarpedagang dan pembeli untuk keamanan bersama," katanya.

Dan yang paling penting, pedagang dan pembeli wajib memakai masker, sekaligus selalu menjaga jarak dengan pembeli minimal satu meter. Selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan setelah melakukan transaksi dan interaksi.

"Pengelola pasar juga harus mempersiapkan tempat pencuci tangan di masing-masing blok pasar sekaligus penyemprotan desinfektan," ujarnya. Ditemukannya 52 pedagang di lima pasar positif COVID-19, Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Arief Nasrudin mengatakan akan menutup pasar tersebut. Penutupan pasar untuk proses sterilisasi.

"Kita akan tutup selama tiga hari untuk kita semprot disinfektan dan sterilisasi," katanya di Balai Kota Jakarta. "Jadi kita sudah konsultasi juga dengan ahli, kalau sehari itu tidak cukup ditutup. Jadi harus tiga hari ditutup. Dibersihkan, didisinfektan, baru bisa dibuka lagi," lanjutnya.

Untuk 52 pedagang yang positif COVID-19, Arief mengatakan, sudah mendapatkan tindakan medis sesuai dengan protokol penanganan COVID-19.

"Pedagang yang positif kalau orang tanpa gejala (OTG), mereka menjalani isolasi mandiri, tapi kalau darurat mau tak mau harus dirawat di Rumah Sakit," terangnya.

Selain menutup pasar selama tiga hari, Arief menyampaikan akan menyediakan perlindungan tambahan bagi para pedagang berupa "face shield".

"Kita akan bekali para pedagang dengan 'face shield' sehingga pada saat melakukan pelayanan dipastikan tidak ada hambatan penyebaran COVID-19 sehingga jadi ada proteksi tambahan," katanya.

Arief juga menjelaskan ada kemungkinan kasus positif corona baru pada pedagang bertambah. Mengingat saat ini sejumlah pasar yang masih menunggu hasil test swab.

"Yang belum seperti Pasar Kebayoran Lama hasilnya belum keluar, Pesanggrahan belum keluar, Pondok Labu belum keluar, ya kita belum melakukan penutupan. Tetapi penyemprotan tetap dilakukan," jelasnya.

Sementara Kepala Pasar Slipi Palmerah, Jakarta Barat, Ahmad Subhan membenarkan bila sekitar 80 orang menanti hasil tes cepat dari Puskesmas setempat. Tak hanya pedagang, pengelola pasar, petugas keamanan hingga petugas kebersihan juga mengikuti tes cepat yang diadakan Rabu (10/6).

"Totalnya ada sekitar 80 orang," katanya. Sambil menunggu hasil, Ahmad mengatakan, pihaknya selalu mengecek kedisiplinan penghuni Pasar Slipi menjalankan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

"Di Pasar Slipi juga rutin pengecekan suhu kepada pedagang dan konsumen serta pemberitahuan yang tidak memakai masker," katanya. Penambahan kasus pedagang pasar di Jakarta positif COVID-19 dibenarkan Kepala Puskesmas Cempaka Putih Dicky Alasdik. Sebanyak 14 pedagang di Pasar Rawasari positif COVID-19.

"Itu secara keseluruhan, jadi yang di swab pas hari Kamis ditemukan positif 1, di swab Jumat 1 positif dan Sabtu 12 orang," kata Dicky. Dia menyebut para pedagang rata-rata tinggal di dekat Pasar Rawasari dan adapula di daerah Cakung, Jakarta Timur. Untuk warga Cakung, pihaknya telah berkoordinasi dengan Puskesmas setempat.

"Untuk penanganan lebih lanjut biar dari petugas medis di lokasi mereka tinggal saja," ucapnya. Dicky menambahkan sebagian besar para pedagang tersebut masuk dalam kategori orang tanpa gejala (OTG) sehingga menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Menanggapi itu, Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono mengatakan sebagai bentuk lemahnya pengawasan protokol kesehatan di pasar. "Ya ini soal lemahnya pengawasan penerapan protokol kesehatan di pasar-pasar tradisional," katanya.

Gembong meminta PD Pasar Jaya mengawasi ketat pasar tradisional di Jakarta. Protokol kesehatan, menurutnya, harus betul-betul diterapkan sesuai dengan pedoman pencegahan penularan COVID-19.

"Maka PD Pasar Jaya harus melakukan kontrol yang ketat terhadap penerapan protokol kesehatan serta PD Pasar Jaya harus menyediakan fasilitas protokol kesehatan, misalnya tempat cuci tangan dengan sabunnya, berpedoman dengan protokol kesehatan, PD Pasar Jaya dapat mengatur jarak, dan lain-lain," ujarnya.

Dikatakannya tindakan itu harus dilakukan guna menyeimbangkan kesehatan dan perekonomian rakyat. Aktivitas bisa saja berjalan tapi harus tetap memprioritaskan kesehatan.

"Ini bisa dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara faktor kesehatan dan bergeliatnya ekonomi rakyat, cuma memang diperlukan pengawasan yang sangat ketat, agar aktivitas pasar bisa berjalan namun sisi kesehatan tetap menjadi faktor utama," ujarnya.(gw/fin)

 



 





BERITA BERIKUTNYA

loading...