AS dan Cina Akur, RI Masih Defisit Neraca Dagang

Sabtu, 18 Januari 2020 | 07:25:42 WIB | Dibaca: 75

BANGKO-INDEPENDENT.COM, JAKARTA – Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina mulai mereda dengan ditandai kesepakatan perjanjian dagang kedua negara tersebut. Meskipun kabar gembira, namun diperkirakan belum berdampak besar terhadap ekonomi nasional, yakni menurunkan defisit neraca dagang Indonesia.

Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan, kesepakatan perjanjian dagang AS dan Cina belum bisa menghilangkan ketidakpastian global, sehingga belum mampu menurunkan defisit neraca dagang.

Hal itu karena, lanjut Faisal, kesepakatan dagang tersebut sifatnya hanya sementara. Kondisi demikian, belum bisa menurunkan defisit neraca dagang. Konsolidasi antara kedua negara tersebut tidak begitu signifikan mempengaruhi defisit neraca dagang.

“Karena penetrasi ekspor masih akan susah meskipun sudah mencapai kesepakatan. Sebetulnya, proteksi itu bukan hanya diakukan oleh Cina dan AS, tetapi juga negara mitra tujuan lainnya,” katanya.

Kendati demikian, proyeksi Faisal, angka defisit menurun tipis pada 2020. Penurunan ini dipengaruhi oleh beberapa komoditas seperti tren peningkatan harga, terutama pada minyak mentah kelapa sawit.

Ekonom Indef, Enny Sri Hartarti menilai defisit transaksi berjalan masih akan terjadi. Hal ini karena lesunya kinera ekspor. Ditambah dengan impor konsumsi yang meningkat.

Selain itu, kepastian investasi juga masih kurang. Dalam hal ini pemerinta harus melakukan pembenahan di semua sektor. “Tidak selalu harus bergantung pada Omnibus Law,” tukas dia.

Sebelumnya, dikutip dari Washingtn Post, Kamis (16/1), perang dagang antara AS dan Cina yang berlangsung selama hampir dua tahun dan membuat kacau perekonomian gobal telah berakhir. Hal ini degan ditandai kesepakatan perjanjian bersama.Isi perjanjian itu, Cina setuju untuk membeli barang AS sekitar USD200 miliar lebih banyak selama dua tahun ke depan, dan perusahan AS akan mendapatkan lebih banyak akses pasar Cina, dan lebih banyak perlindungan kekayaan intelektual.

Gregory Daco dari Oxford Economics dan Moody’s Analytics menghitung bahwa perang dagang AS-China memangkas pertumbuhan ekonomi 0,3 persen, setara dengan USD65 miliar pada tahun lalu. Angka tersebut bisa meningkat menjadi USD85 miliar pada 2020, karena kesepakatan kedua negara tidak mengakhiri perang dagang. Tarif tetap berlaku pada hampir dua pertiga dari impor Cina.

Wakil perdana menteri Cina mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan Cina akan membeli lebih banyak barang dari AS berdasarkan kondisi pasar.

Selain itu, Cina juga setuju untuk mencabut pembatasan susu, susu formula, dan daging sapi Amerika, yang memungkinkan petani AS untuk menjual lebih banyak.(din/fin)






BERITA BERIKUTNYA

loading...