Janjikan Benahi Pelayanan

Akui Belum Optimal

Selasa, 03 Desember 2019 | 07:28:20 WIB

GELAR : Direktur RSD Kol Abundjani Bangko bersama jajarannya melakukan konferensi pers.
GELAR : Direktur RSD Kol Abundjani Bangko bersama jajarannya melakukan konferensi pers.

BANGKO-INDEPENDENT.COM, MERANGIN - Adanya indikasi tak maksimalnya pelayanan Rumah Sakit Daerah (RSD) Kol Abundjani Bangko, mencuat di media sosial. Bahkan disinyalir ada dugaan membiarkan pasien terlantar hingga meninggal dunia.

Terkait beredarnya kabar tersebut, pihak RSD Kol Abundjani Bangko, Senin (2/12) menggelar konfrensi pers. Di kesempatan ini, Direktur RSD Kol Abundjani Bangko, Berman Saragih menyebutkan bahwa pelayanan di lini IGD belum maksimal. Dan kedepan ini akan dioptimalkan dan dimaksimalkan.

Terkait kronologis pasien yang meninggal dunia tersebut, ia mengatakan jika pasien langsung ditangani oleh dokter piket di IGD. Dan diakuinya, masih ada satu dan dua pegawai yang harus meningkatkan pelayanan.

“Pegawai Rumah Sakit sebanyak 625 orang, masih dirasa kurang untuk melayani pasien secara optimal. Kita akui ada satu dan dua pegawai yang belum menjalankan tugasnya dengan baik,” jelasnya.

Lebih lanjut, Berman mengakui pelayanan di IGD dan pelayanan lainnya belum optimal. Untuk pelayanan optimal perlu membenahan yang harus dilakukan disemua lini, termasuk dengan perilaku orang.

"Ini menjadi pelajaran untuk kita, sehingga kedepan bisa berbenah lebih baik lagi. Kita juga ingin berbuat banyak untuk Kabupaten Merangin terutama kesehatan masyarakat," ungkapnya.

Berman mengakui, secara struktural sudah memanggil Kepala Ruangan, Dokter Spesialis, Dokter IGD dan Perawat Ruang Bedah. Hal itu dilakukan agar para dokter dan pegawai tidak ada rekayasa dengan persoalan ini. Dan harus dijelaskan secara transparan dan tak ada yang ditutup-tutupi.

Dijelaskan dokter IGD, Dr. Surya kejadian, pasien dari Desa SPH Hitamulu tersebut sudah mendapatkan infus dan pelayanan dari dokter di RSD Kol Abundjani Bangko. Dan tindakan itu bukan didapatkan pasien dari Puskesmas. “Infus pada pasien kita pasang di RSD dan diberi obat untuk mengurangi anti nyeri. Sambil dilakukan observasi melengkapi data rekam medis sebelum ditranfer ke ruang selanjutnya untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut,” ujar dr. Surya.

Menurutnya, saat melakukan penangananan, pasien tidak ada pendarahan aktif. Ia menyebutkan jika ada pendarahan aktif maka sudah berceceran darah di ruang IGD. Lantas bagaimana tentang penyebab kematian pasien dari sisi penilaian medis? Ia menyebutkan pasien meninggal dunia tidak dapat dipastikan secara pasti. Sebab banyak kemungkinan penyebab dan harus dilakukan otopsi.

“Untuk penyebab kematian secara medis harus dilakukan otopsi,” jelas dr Sinta, Spesialis Bedah yang menjawab pertanyaan tersebut.

Menurutnya, Dr Sinta, faktor usia tua tidak bisa menjadi patokan bisa atau tidak pasien dilakukan pembedahan sebelum pasien operasi dinyatakan sehat rekam medisnya dan tidak ada kelainan. “Kemungkinan pasien meninggal karena penyakit jantung yang dideritanya. Dan di RSD belum ada dokter spesialis jantung dan peralatan secara memadai untuk melakukan penanganan,” katanya.

Diakhir pertemuan, Direktur RSD Kol Abundjani Bangko Berman Saragih menyebutkan akan melakukan pembenahan managemen pelayanan sesuai akreditasi yang ditetapkan. (why)






BERITA BERIKUTNYA

loading...