Candu Game Rusak Otak

Senin, 09 September 2019 | 14:32:11 WIB

BANGKO-INDEPENDENT.COM, MAKASSAR – Gawai bisa merusak mata. Parahnya lagi, mengganggu kesehatan otak anak.

Spesialis Anak, Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, dr Jusli Aras MKes SpA menuturkan, game berdampak negatif pada anak. Dari hasil penelitian disebutkan bahwa kerusakan terjadi di hipocampus yang merupakan pusat memori dan daya ingat. Pada anak yang bermain game, akan lebih banyak muncul daerah abu-abu dibanding anak yang tidak bermain game.

Bermain game juga akan memunculkan corpus striatum. Pengambilan alih fungsi secara otomatis, di mana ketika anak bermain game tanpa sadar akan membuat tubuhnya bergerak otomatis. Hal ini akan membuat peran hipocampus sebagai pusat memori berkurang.

Pada kasus bermain game terbanyak anak mengalami gangguan kejiwaan yang membuatnya mudah merasa gelisah dan sulit tidur. Nantinya akan mengganggu fungsi penglihatan dan perdengaran. Fungsi otaknya hanya terfokus pada hal tersebut sehingga ketika tak menyentuh gawai, akan merasakan kemarahan.

Pada kasus perdarahan di otak mungkin saja dapat terjadi. Tetapi secara tidak langsung dan dalam jangka yang sangat panjang. Selain itu, tak semua berakibat hingga ke perdarahan.

Perdarahan sendiri ada tiga penyebab. Gangguan pembekuan darah yang salah satunya disebabkan defisiensi vitamin K, fungsi, dan jumlah trombosit yang mengalami kelainan yang akhirnya menyebabkan perdarahan. Faktor penyebab bisa karena tekanan darah tinggi yang dialami anak, serta komplikasi dari penyakit tertentu. “Bisa juga karena trauma benturan keras di kepala meskipun memang kalau pada anak-anak jika ada tekanan masih bisa meregang,” ungkapnya.

Sementara itu, Psikolog Anak, Universitas Negeri Makassar, Eva Meizara Puspita SPsi MSi mengatakan, bermain gawai akan memengaruhi berkembangnya segala aspek. Mulai dari bahasa hingga aspek interaksi sosial anak. Akan diperparah jika tak ada pengawasan dari orang tua.

Gawai juga akan memperlambat kemampuan bicara anak karena stimulus dan interaksi yang kurang. Anak hanya akan terfokus pada gawai sehingga ia akan lebih agresif dan mudah marah ketika tidak diberikan gawai. Apalagi bila konten dalam permainannya pun tak sesuai dengan usia anak. Anak memiliki karakter peniru sehingga akan meniru apa saja yang dilihat melalu gawai.

(*)






BERITA BERIKUTNYA

loading...