Samsu Tewas Di Tangan Polisi

7 Tahun Setubuhi Anak Kandung

Senin, 09 September 2019 | 10:09:00 WIB

Pelaku tampak tergeletak di tanah usai dilumpuhkan anggota Polres Bungo, Sabtu (07/09).
Pelaku tampak tergeletak di tanah usai dilumpuhkan anggota Polres Bungo, Sabtu (07/09).

BANGKO-INDEPENDENT.COM, Muarabungo -  Samsu (48), warga Sungai Dingin Rt 05 Kelurahan Dwi Karya Bakti, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo tewas di tangan polisi. Samsu adalah ayah yang dilaporkan menyetubuhi anak kandung selama tujuh tahun hingga hamil.

Anak kandung bernasib malang itu berinisial YP(14). Berdasarkan informasi yang diperoleh Bungo Independent, YP sudah sering disetubuhi ayah kandungnya sejak 7 tahun terakhir. Terakhir Anak Baru Gede(ABG) itu diketahui hamil 3 bulan 15 hari.

Sementara ayahnya meregang nyawa ditangan Polisi saat hendak dibekuk, Sabtu(07/09) sekitar pukul 13.00 WIB. Samsu terpaksa ditembak polisi karena melakukan perlawanan dengan senjata api rakitan ketika polisi berusaha menangkapnya.

Dari informasi yang berhasil diperoleh, penangkapan Samsu ini berdasarkan laporan ibu korban berinisial RD (36). RD tercatat  warga Dusun  Bukit Baru, Kelurahan Dwi Karya Bakti, Kecamatan Pelapat. Dia melaporkan perbuatan Samsu pada 3 Septembar lalu. Laporan itu tertera  sesuai dengan nomor : LP/B/ 188 / IX/ 2019/ SPKT /Res Bungo.

Dalam laporan itu, ibu korban menuduh bahwa suaminya Samsu telah melakukan persetubuhan dengan anak kandungnya sendiri. Kejadian itu terungkap berawal pada hari Rabu tanggal 28 Agustus 2019 sekira pukul 09.00 wib. Kala itu korban bercerita kepada keluarganya bahwa dia mengalami sakit perut.

Mendengar penuturan itu, piihak keluarga lalu membawa korban ke rumah sakit Jabal Rahmah muara Bungo dan ketika diperiksa melalui teknologi USG. Hasil pemeriksaan ternyata korban sudah hamil 3 bulan 15 hari.

Melihat kondisi ini, ibu korban menanyakan kepada korban siapa pelakunya. Namun kala itu korban tak bersedia terbuka. Sementara  ayah kandungnya malah mendadak emosi dan meminta janin pada anak kandungnya(korban) itu digugurkan saja.

Dalam perjalanan pulang, korban akhirnya menceritakan kepada ibunya bahwa pelakunya adalah ayah kandungnya sendiri. Bahkan pengakuannya perbuatan bejat itu sudah dilakukan sejak tahun 2013 lalu hingga Mei 2019.

Korban mengaku diancam dibunuh oleh ayahnya bila tidak mau melayani nafsu bejatnya. Atas cerita itu, pihak keluarga memutuskan untuk melapor ke Mapolres Bungo.

Menerima laporan itu, tim Buser Polres Bungo melakukan penyelidikan dan melacak keberadaan pelaku. Kemudian tim buser mengetahui pelaku sedang berada di sebuh perkebunan karet Dusun Dwi Karya Bakti, Kecamatan pelepat.

Pada Sabtu (03/09) sekitar pukul 10.00 WIB, Tim buser lalu turun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk melakukan penangkapan. Namun kala itu, pelaku melakukan perlawanan dengan senjata api (Senpi),  sehingga tim buser melakukan tindakan tegas dengan menembak pelaku.

Setelah pelaku dilumpuhkan, tim Buser lalu membawa pelaku ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H Hanafie Muarabungo untuk dilakukan perawatan. Karena parahnya luka tembak yang dideritanya, nyawa pelaku tak bisa diselamatkan.

Dari tangan pelaku, polisi berhasil menemukan barang bukti berupa senjata api rakitan jenis gobok dan sebilah parang.

Waka Polres Bungo Kompol Yudha Pranata mengatakan, tindakan tegas yang diambil pihaknya karena pelaku melakukan perlawanan dan ingin menyerang anggota kepolisian dengan senjata api rakitan,  ketika melakukan penangkapan.

"Pelaku, melakukan perlawanan dengan mengarahkan senjata laras panjang/gobok ke arah polisi. Kemudian melakukan tindakan tegas terukur dengan melakukan tembakan ke arah pelaku," ungkap mantan Waka Polres Tebo tersebut.(abu/run)






BERITA BERIKUTNYA

loading...