Papua Masih Membara

Jumat, 30 Agustus 2019 | 15:22:50 WIB

BANGKO-INDEPENDENT.COM, JAKARTA – Kondisi keamanan di Papua masih panas dan membara. Ini sangat berbeda dengan pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto yang menyebut Bumi Cenderawasih telah kondusif. Pada Kamis (29/8) kondisi Jayapura mencekam. Warga khawatir karena ada sejumlah aksi pembakaran bangunan. Sehari sebelumnya seorang anggota TNI dan dua warga sipil tewas saat terjadi aksi demo di kantor Bupati Deiyai.

Aksi unjuk rasa menolak tindakan rasisme buntut peristiwa Surabaya dan Malanf Jawa Timur, kembali terjadi di Papua, Kamis (29/8). Unjuk rasa yang diwarnai aksi anarkis di sejumlah tempat berujung bentrok dengan aparat keamanan.

Aksi massa di mulai dari kawasan Expo, Wamena, Abepura. Di lokasi ini, massa nekat merusak mobil dinas milik Komandan Distrik Militer (Dandim) 1701 Jayapura, Letkol Inf Johanes Parinusa yang sedang digunakannya untuk memantau para pendemo di lokasi.

“Memang benar mobil dinas yang saya tumpangi dirusak, saat melintas untuk memantau demo, dimana saat itu sedang terjadi bentrok,” kata Dandim 1701 Jayapura, Letkol Inf Johanes Parinusa, Kamis (29/8).

Usai merusak dinas TNI, massa melanjutkan aksinya dengan melakukan long march dari kawasan Expo untuk bergabung dengan massa lainnya di Abepura, lalu berkumpul di Kota Jayapura.

Iring-iringan massa yang tumpah ruah di jalan raya pun memaksa, toko-toko dan pusat perbelanjaan yang ada di sepanjang jalan protokol harus ditutup. Warga ketakutan dan menghindari menjadi sasaran aksi anarkis massa. Bahkan, para pelajar pukul 09.30 WIT juga dipulangkan.

Kasubag Humas Polres Jayapura Kota Iptu Jahja Rumra mengatakan, aksi unjuk rasa massa ini membuat terjadinya bentrok dengan aparat kepolisian. Bahkan polisi sempat mengeluarkan gas air mata, guna menahan massa yang ingin ke Jayapura.

Namun, kata Jahja, gas air mata yang dilepaskan aparat tak membuat aksi anarkis massa terhenti, tapi sebaliknya malah menjadi-jadi.

“Massa terus melakukan perlawanan dengan melempari batu ke aparat, dan juga kendaraan,” ujar Jahja.

“Dan akibat aksi massa itu salah satu anggota kami terluka, serta mobil dinas Dandim rusak parah,” sambungnya.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menyebut, para pendemo yang diperkirakan berjumlah ribuan orang itu kemudian melakukan aksi perusakan dan pembakaran gedung perkantoran, maupun pertokoaan, serta kendaraan yang ada di sekitarnya.

Termasuk, Kantor Majelis Rakyat Papua (MRP). Gedung tersebut dibakar, sekitar pukul 14.00 WIT.

“Ya, dari hasil sementara informasi di lapangan, diketahui massa sudah banyak melakukan aksi pembakaran dan perusakan sejumlah gedung perkantoran dan pertokoan di wilayah tersebut,” ujar Dedi melalui pesan tertulis.

Dedi pun menyebut, massa juga nekat membobol dan merusak Lapas Abepura, membakar Polsek Jayapura Selatan, dan merusak, serta membakar pertokoan PTC di Jayapura Selatan. Kemudian, massa merusak sejumlah mobil dinas TNI-Polri.

“Massa juga merusak mobil-mobil di sepanjang jalan yang mereka lewati, juga membakar belakang kantor MRP. Dan dampak situasi ini, jaringan komunikasi sementara sebagian terputus,” kata Dedi.

Terpisah Menko Polhukam Wiranto menyesalkan adanya aksi anarkis yang merugikan tersebut.

“Hari ini saya juga mendapat laporan demo yang berjalan di Abepura ke Jayapura sudah membakar gedung MRP, ya menjebol rumah tahanan,” kata Wiranto di gedung DPR, Jakarta, Kamis (29/8).

Dalam situasi tersebut, Wiranto pun mengingatkan kepada aparat keamanan, agar tetap bertindak persuasif menghadapi massa pendemo. Dan dia menegaskan, senjata dengan peluru tajam tidak boleh digunakan dalam mengatasi situasi tersebut.

“Bahwa aparat keamanan sudah diinstruksikan jangan sampai melakukan tindakan represif. Harus persuasif terukur, bahkan senjata peluru tajam tidak boleh digunakan. Tapi jangan sampai kemudian justru dimanfaatkan oleh pendemo atau pendompleng pendemo untuk mencelakakan aparat keamanan,” tandasnya.

(Mhf/gw/fin)






BERITA BERIKUTNYA

loading...