Palsukan Dokumen, Wuri Dipenjara 6 Bulan

Selasa, 13 Agustus 2019 | 11:31:18 WIB

BANGKO-INDEPENDENT.COM, JAMBI – Terdakwa Ariono Wuri alias Ari alias Wuri dianggap telah terbukti bersalah oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jambi, Kamis (8/8) kemarin. Majelis hakim berpendapat, hal yang memberatkan terdakwa Wuri yakni, telah meresahkan masyarakat.

Menimbang hal tersebut lah, majelis hakim sepakat memberikan hukuman terhadap terdakwa Wuri, dengan hukuman penjara selama 6 bulan. Ii karena terdakwa terbukti melakukan tindak pidana tanpa hak mencetak dokumen kependudukan.

“Hal yang meringankan terdakwa yakni, ia menyesali perbuatannya. Maka dari itu, terdakwa juga dikenakan dendan Rp 2 juta dengan ketentuan apabila tidak dibayarkan diganti dengan hukuman selama 1 bulan penjara,” sebut Arfan Yani.

Mendengarkan putusan itu, tedakwa Wuri pun hanya tertunduk. Ia memilik waktu selama 7 hari untuk menyikapi putusan tersebut. Hal serupa juga diberikan kepada JPU oleh majelis hakim. Seperti diketahui, Ariono Wuri, warga Rt 04 Kelurahan Beliung, Kecamatan Alam Barajo harus berhadapan dengan penegak hukum.

Ini gara-gara dia memalsukan Kartu Tanda Kependudukan (KTP), untuk keperluan kendaraan lising. Berdasarkan informasi, Ariono yang kesehariannya bekerja sebagai pegawai lising, melakukan aksinya ini sejak 2017 lalu. Sayangnya, Kamis (28/3) sekira pukul 12.00 lalu aksinya tercium oleh petugas Dukcapil Kota Jambi, saat akan melakukan registrasi Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Pasalnya, saat Ariono membawa KTP salah satu konsumennya, saat dicek petugas Dukcapil, NIK tersebut tidak terdaftar di data kependudukan. Setelah berkali-kali dicek, ternyata identitas yang dibawa Ariono palsu. Tak menunggu lama, pihak Dukcapil Kota Jambi langsung menghubungi petugas Polresta Jambi.

Unit Reskrim Polresta Jambi, yang mendapat laporan langsung mendatangi Dukcapil kota Jambi. Sesampainya di sana, petugas mengamankan Ariono yang tengah membawa KTP palsu. Saat dilakukan penggeledahan di rumah Ariono, petugas malah menemukan puluhan KTP dan Kartu Keluarga (KK) palsu. Tak hanya itu, petugas juga menemukan laptop dan sebuah printer merk Canon warna hitam yang digunakan tersangka untuk melakukan aksinya.

Sementara itu dari pengakuan Ariono, dirinya bisa melakukan hal ini secara manual atau otodidak. Dirinya membuat KTP tersebut dengan cara di scan menggunakan aplikasi Photoshop. Tak hanya itu, sebagai upah membuat KTP, Ariono kerap meminta imbalan sebesar Rp 100 ribu. Nantinya, uang tersebut digunakan untuk membeli barang-barang yang diperlukan untuk membuat KTP. (zen)

 



 





BERITA BERIKUTNYA

loading...