Indonesia Gelar Konfrensi Bantuan Kemanusiaan

Jumat, 09 Agustus 2019 | 10:26:38 WIB

BANGKO-INDEPENDENT.COM, JAKARTA – Pemerintah Indonesia menginisiasi gelaran Konferensi Kawasan dalam Bantuan Kemanusiaan (Regional Conference on Humanitarian Assistance) yang pertama. Konferensi itu diikuti 17 negara di Asia-Pasifik, lima organisasi internasional dan 17 lembaga swadaya masyarakat di bidang kemanusiaan.

Konferensi ini membahas lima isu utama. Pertama mengenai pemberdayaan aktor kemanusiaan di tingkat nasional dan lokal, kedua kerja sama dan kolaborasi multi-sektoral dalam penyelenggaraan bantuan kemanusiaan dan ketiga pelibatan dan pemberdayaan masyarakat lokal, terutama perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas, dan orang tua.

Keempat aspek keberlanjutan dalam penyelenggaraan bantuan kemanusiaan, yang mendukung transisi dari fase tanggap darurat ke fase pembangunan; dan yang terakhir perlindungan aktor kemanusiaan dalam penyelenggaraan bantuan kemanusiaan.

Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, AM Fachir mengatakan, konferensi menghasilkan Chairs Summary yang akan memuat rekomendasi dan pembahasan kelima isu tersebut. Selain itu, akan memuat rencana selanjutnya termasuk referensi bagi penyelenggaraan memberikan bantuan kemanusiaan yang efektif.

“Di antaranya adalah keinginan para penggiat kemanusiaan untuk menghasilkan upaya dan pendekatan terhadap isu kemanusiaan secara lebih konkret, serta menjajaki kemungkinan untuk mengadakan konferensi semacam ini secara lebih berkelanjutan,” kata Fachir, Kamis (8/8).

“Konferensi kawasan untuk mereka yang berdedikasi dalam memberikan bantuan kemanusian, karena bantuan kemanusiaan tidak hanya dilakukan oleh aktor pemerintah tapi juga banyak aktor-non pemerintah yang terlibat dalam berbagai peristiwa,” sambungnya.

Menurut Fachir, konferensi tersebut bertujuan untuk memperkuat kepemimpinan diplomasi kemanusiaan Indonesia di tingkat kawasan dan global. Hal itu sejalan dengan arah kebijakan luar negeri Indonesia yang menjadikan diplomasi kemanusiaan sebagai salah satu prioritasnya.

“Kami melihat ada keperluan dari pelaku-pelaku pemberi bantuan kemanusiaan termasuk pengambil keputusan untuk berbagi pengalaman masing-masing, dengan demikian bisa saling belajar, selain itu tidak kalah pentingnya adalah memperkuat jaringan antara para pelaku,” jelasnya.

Fachir mengatakan, Indonesia memiliki beberapa pengalaman dalam proses memberikan bantuan kemanusiaan baik diinisasi oleh Indonesia sendiri, maupun berkerja sama dengan pihak lainnya, seperti yang dilakukan di Palestina dan Myanmar.

“Saya ingat ketika saya bertugas di Kairo, ketika Gaza, Palestina, diserang maka banyak sekali organisasi sosial dan kemanusiaan yang ingin terlibat untuk membantu saudara-saudara di Palestina, kami bentuk semacam aliansi lalu kami mensinergikannya karena harapannya mungkin ada bantuan yang diberikan bersamaan,” pungkasnya.

(der/rls/fin)






BERITA BERIKUTNYA

loading...