Serangan Siber Hantam Iran

Senin, 24 Juni 2019 | 09:26:25 WIB

BANGKO-INDEPENDENT.COM, WASHINGTON – AS memang tak membalas Iran secara langsung. Tiada misil yang ditembakkan sebagai balasan atas ditembak jatuhnya pesawat pengintai tanpa awak AS. Meski begitu, AS menyiapkan serangan yang bisa membuat negara yang dipimpin Hassan Rouhani itu berang.

 

“Kami akan menjatuhkan sanksi tambahan kepada Iran pada Senin (hari ini, red),” cuit Presiden AS Donald Trump di akun Twitter-nya.

 

Itu tentu saja bukan sanksi pertama untuk Iran. Sejak menarik diri dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) atau kesepakatan nuklir pada 8 Mei 2018, AS menjatuhkan sanksi bertubi-tubi kepada Iran. Sanksi terakhir dikeluarkan Mei lalu. Kesepakatan nuklir yang disetujui 2015 terancam buyar.

 

Sepanjang Sabtu (22/6), Trump menghabiskan waktu di Camp David bersama para penasihatnya untuk membahas strategi menangani Iran. Kepada para jurnalis, dia menyatakan siap menjadi teman baik Negeri Para Mullah itu dan menghapuskan sanksi-sanksi. Namun, dengan catatan, Iran harus menyerahkan dan tak lagi memproduksi senjata nuklir. Di pihak lain, Teheran menampik tudingan itu dan menyatakan bahwa pengayaan nuklir tersebut untuk kepentingan sipil.

 

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo melontarkan hal serupa. AS siap duduk bersama jika Iran tak lagi melakukan kekerasan dan memilih jalur diplomasi. “Sampai saat itu, isolasi diplomatik dan kampanye menekan perekonomian untuk melawan rezim (Iran, Red) akan terus diintensifkan,” tegasnya.

 

AS tak hanya menjatuhkan sanksi. New York Times (NYT) kemarin (23/6) mengungkapkan, Washington telah meluncurkan serangan siber ke sistem kontrol misil dan jaringan mata-mata Iran. Jaringan mata-mata itu bertugas melacak kapal-kapal yang berlayar di Selat Hormuz.

 

Trump diam-diam mengizinkan Komando Siber AS untuk melakukan serangan tersebut Kamis (20/6), pasca-Iran menembak jatuh pesawat siluman tanpa awak Global Hawk. Sejatinya serangan siber itu sudah disiapkan selama beberapa pekan saat Iran dituding sebagai pelaku penyerangan terhadap beberapa tanker minyak yang lewat Teluk Oman.

 

Washington Post dan AP menyebut serangan itu bertujuan membuat sistem senjata yang digunakan oleh Garda Revolusi Iran tidak berfungsi lagi. Sedangkan NYT menyebut tujuan serangan itu adalah mematikan sistem untuk sementara.

 

Hingga kemarin, belum diketahui apakah serangan siber AS tersebut benar-benar berdampak. Media-media Iran menyebutkan bahwa berita tentang serangan siber itu hanya alasan AS untuk menutupi rasa malu karena drone-nya telah ditembak jatuh.

 

Di pihak lain, pemerintah Iran tak tinggal diam. Mereka balas menyerang. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS pada Sabtu (22/6) mengonfirmasi bahwa Iran meningkatkan serangan siber ke AS. Direktur Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur Keamanan Christopher Krebs mengatakan, serangan itu diarahkan ke industri dan lembaga pemerintahan di AS. Iran juga mengancam siap perang jika AS sampai menyerang mereka secara langsung.

 

“Menembakkan satu peluru ke Iran akan membakar kepentingan-kepentingan Amerika dan sekutu-sekutunya di wilayah regional ini,” ujar Juru Bicara Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Abolfazl Shekarchi seperti dikutip kantor berita Tasnim.

 

Iran bersikukuh tak bersalah dalam kasus penembakan Global Hawk. Pesawat siluman tersebut masuk wilayah udara Iran. Selain itu, ada satu pesawat militer yang mengawal kala itu. Pesawat tersebut tidak ikut ditembak karena membawa 35 penumpang. Iran juga menyatakan telah mengeksekusi salah satu kontraktor di Organisasi Dirgantara milik Kementerian Pertahanan Iran. Kontraktor itu dituding sebagai mata-mata AS. (sha/ful)






BERITA BERIKUTNYA

loading...