- Parkir dan Tarif Masuk Tembus Rp 20 Ribu

Objek Wisata Tercoreng

Selasa, 11 Juni 2019 | 09:47:53 WIB

Ist/Bangko Independent

BANGKO-INDEPENDENT.COM, KERINCI - Pariwisata di Kabupaten Kerinci kembali tercoreng. Ternyata kondisi ini masih sama halnya dengan tahun lalu. Praktik pungli diduga masih merajalela dihampir seluruh objek wisata.

Praktek dugaan pungli ini mulai dari tarif masuk dan biaya parkir yang dipungut jauh diatas ketentuan Peraturan Daerah (Perda). Bahkan warga yang hanya sekedar melintas dijalan umum saja tetap dipaksa harus membayar.  

Informasi yang dihimpun, dugaan pungli dilakukan oleh pengelola sejumlah objek wisata milik daerah. Bahkan para pengelola tak menghiraukan intruksi Bupati Kerinci. Sementara itu, dari jauh-jauh hari Bupati telah mengingatkan agar pengelola objek wisata tidak memungut retribusi di luar ketentuan. Tetapi intruksi ini tetap saja tidak diindahkan. Kenyataan di lapangan, praktik pungli disejumlah objek wisata di Kerinci semakin merajalela, tanpa bisa dikontrol oleh pemerintah. 

Kondisi ini tentu sangat dikeluhkan pengunjung, lantaran keberatan membayar mahal saat akan masuk ke lokasi wisata. Apalagi Kabupaten Kerinci merupakan Branding Pariwisata di Provinsi Jambi yang seharusnya menjadi contoh nasional.

“Sebelum lebaran, katanya karcis masuk dan parkir akan disesuaikan dengan Perda. Namun kenyataannya tidak begitu,” kata Arman, pengunjung wisata di Danau Kerinci.

Keluhan tidak hanya datang dari warga Kerinci saja, namun mahalnya retribusi wisata di Kerinci juga dikeluhkan oleh wisatawan dari luar Kerinci.“Saya terkejut ketika diminta membayar tiga karcis sekaligus, saat masuk ke kawasan Aroma Peco. Satu karcis untuk retribusi, satu karcis perorangan dan satu lagi karcis parkir. Totalnya Rp 30 Ribu,” kata Amril, pengunjung yang mengaku berasal dari Sumbar.

Dia membandingkan dengan retribusi wisata di daerah asalnya. Dimana retribusi dipungut sesuai aturan. “Kalau di Sumbar jika ada yang memungut diluar ketentuan Perda, pasti sudah ditindak tegas,” ucapnya.

Pantauan di lapangan, kondisi itu hampir terjadi disemua objek wisata milik Pemda Kerinci. Seperti di kawasan Air Terjun Telun Berasap, Kecamatan Gunung Tujuh, Danau Kerinci, dan beberapa lokasi lainnya. 

Untuk parkir roda empat saja dipungut Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu, belum lagi retribusi masuk dikisaran Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu per orang. Padahal jika sesuai Perda, biaya parkir hanya Rp 2 ribu untuk roda dua, Rp 4 ribu roda empat, begitupun karcis masuk hanya Rp 4 ribu per orang untuk dewasa. 

Di Danau Kerinci, korban pungli tidak hanya para pengunjung saja. Namun warga yang hanya sekedar melintas juga diminta bayaran. Namun anehnya, meski praktik pungli ini sudah terjadi setiap tahun, tidak ada satupun pelaku yang ditindak tegas. Pihak Satpol PP selaku pengawal Perda dan juga pihak kepolisian belum terlihat melakukan tindakan baik pencegahan ataupun penindakan.

Sebelumnya, Bupati Kerinci H Adirozal, ketika berkunjung ke Desa Pulau Pandan Kecamatan Bukit Kerman meminta agar masyarakat menjaga dan mengembangkan pariwisata. Kepada warga, Bupati Kerinci mengaku selama ini pengunjung wisata Danau Kerinci banyak yang mengeluh. Terutama saat libur lebaran tiba. Sebab biaya masuk dan parkir di Danau Kerinci dinilai terlalu mahal. Bahkan disebut-sebut sebagai parkir termahal di dunia.

“Jangan mengompas orang sampai menjadi parkir termahal di dunia,” ujar Bupati Adirozal.

Suara Bupati semakin meninggi, setelah ada warga yang menanggapi ucapannya. Warga mengatakan, bahwa biaya kontrak wisata Danau Kerinci dari Pemkab ke pihak ketiga juga mahal. “Kalau mahal jangan di kontrak, banyak orang lain yang mau,” tegas Bupati dengan nada keras.

Bupati juga meminta, agar warga bisa menjaga keramahan. Karena Keramahan itulah yang merupakan ciri masyarakat Kerinci. “Jangan peras orang yang datang ke negeri kita,” tegasnya. (ded)






BERITA BERIKUTNYA

loading...