Lawatan Trump Bawa Masalah

Selasa, 04 Juni 2019 | 13:14:27 WIB

BANGKO-INDEPENDENT.COM, LONDON – Presiden AS Donald Trump baru saja memulai lawatan resmi tiga hari di Inggris kemarin. Tapi, dia sudah membawa masalah bertubi-tubi dalam kunjungan kenegaraan keduanya tersebut. Tentu saja itu menambah problem di negara yang sudah tertekan dengan masalah Brexit tersebut.

 

Belum juga mendarat di Bandara Stansted, Trump sudah menyapa “kawan lama”-nya, Wali Kota London Sadiq Khan. Dia menyebut Khan sebagai pecundang sejati yang tak sanggup mengelola ibu kota Inggris. “Dia seharusnya fokus menangani kejahatan di wilayahnya. Bukan saya,” ungkapnya dalam akun Twitter pribadinya.

 

Sapaan itu datang setelah Trump mendengar selentingan tentang komentar Khan sehari sebelum kedatangannya. Dalam artikel yang dirilis The Guardian, Khan mengibaratkan politikus Partai Republik AS itu sebagai tokoh fasisme abad modern. Dia menyesalkan keputusan pemerintah Inggris yang menggelar karpet merah untuk pemimpin 50 negara bagian tersebut.

 

Dua tokoh politik itu memang punya problem di masa lalu. Mereka sudah bertikai saat Trump mengunjungi London pada 2018. Khan memancing kemarahan Trump karena mengizinkan balon udara Baby Trump terbang di angkasa Inggris. Sedangkan Khan sudah lama sebal dengan sentimen antimuslim sang taipan. “Hinaan kekanak-kanakan seperti itu seharusnya tak keluar dari mulut presiden AS,” ujar juru bicara Khan kepada Agence France-Presse.

 

Khan bukan satu-satunya masalah Trump di Inggris. Banyak juga pihak yang menyimpan dendam setelah menjadi sasaran kritik ayah Ivanka itu. Tak terkecuali keluarga bangsawan Inggris.

 

Hari pertama, Trump seharusnya menjadi tamu jamuan teh dan pesta oleh Ratu Elizabeth II dan Pangeran Charles. Tapi, Pangeran Harry dan istrinya, Meghan Markle, sepertinya tak akan datang. Beberapa saat lalu Trump menyebut Markle menjijikkan setelah mengetahui bahwa sang aktris pernah melabeli Trump sebagai misoginis. “Saya tidak pernah menyebut dia (Markle, Red) menjijikkan. Itu hanya karangan media,” sangkal pria 72 tahun tersebut.

 

Hari ini, Trump djadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Theresa May. Satu lagi agenda yang diperkirakan bakal membawa masalah. Sebab, Trump akan memaksakan nasihat untuk keluar dari Eropa kepada pejabat-pejabat yang tak lagi punya taji. Perlu diketahui, May sudah menyatakan pengunduran dirinya bulan lalu.

 

Karena itulah, Trump tak malu-malu untuk mengirimkan pesan kepada kandidat perdana menteri selanjutnya. Menurut dia, kemungkinan bertemu dengan aktivis pro-Brexit Boris Johnson atau Nigel Farage masih terbuka lebar. “Potensi (ekonomi, Red) Inggris sangat besar. Mereka harus segera mengeksekusi rencana (Brexit, Red),” tegas Trump kepada Sunday Times.

 

Analis hubungan internasional Nile Gardiner menilai, tujuan Trump dalam kunjungan kali ini bukanlah May atau Ratu Elizabeth II, melainkan sosok yang bakal menjadi pemimpin Britania Raya di masa depan. Dia berharap pengganti May punya sentimen anti-Uni Eropa.

 

Pemerintah Inggris yang sedang lumpuh pun bingung dengan situasi tersebut. Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt mengatakan, Inggris dan Trump memang punya perbedaan dalam beberapa isu. “Soal kesepakatan nuklir Iran atau jaminan kesehatan, kami tak sepaham. Tapi, dia adalah pemimpin negara sekutu Inggris,” tegasnya.

 

Apalagi, pemerintah Inggris diberi amanah oleh para aktivis untuk menentang Trump soal isu perubahan iklim. Sebanyak 250 akademisi mengirim surat terbuka agar May bisa mempertanyakan sikap AS terhadap perubahan iklim. Mereka merasa bahwa komentar masa bodoh Trump soal ancaman lingkungan bisa menyesatkan seluruh dunia.

 

“Perdana menteri pasti mengangkat isu itu saat bertemu dengan presiden AS,” tegas jubir perdana menteri menurut BBC.

 

(bil/sof/ful)






BERITA BERIKUTNYA

loading...