Situng KPU Harus Dihentikan

Sabtu, 04 Mei 2019 | 05:28:50 WIB

BANGKO-INDEPENDENT.COM, JAKARTA - Komisi Pemilihan Umum (KPU) kembali menegaskan, sistem informasi penghitungan suara (Situng) bukan merupakan hasil resmi Pemilu 2019. KPU pun mengatakan, hasil resmi (Real count) merupakan hasil penghitungan yang dilakukan secara berjenjang.

 

Komisioner KPU RI, Wahyu Setiawan menerangkan, berbeda antara Situng yang bisa diakses melalui internet dan proses manual berjenjang. Ia pun memastikan, yang akan menjadi keputusan resmi hasil Pemilu 2019 adalah melalui mekanisme manual berjenjang. Penghitungan berjenjang tersebut, dijelaskab Wahyu dimulai dari tingkat TPS, kelurahan, kecamatan, Kabupaten/kota, provinsi, sampai tingkat nasional.

 

"Dimulai dari TPS, PPK, KPU kabupaten/kota, KPU provinsi, dan KPU RI. Saat ini sudah di tingkat kabupaten/kota," kata Wahyu.

 

Ia pun menjelaskan bilamana terjadi perbedaan antara hasil situng dan manual, hasil resmi yang bisa dijadikan acuan adalah hasil manual. Namun, menurutnya, saat ini belum dapat disimpulkan ada-tidaknya perbedaan tersebut.

 

"Jadi, apabila ada perbedaan antara hasil berdasarkan rekap manual berjenjang dengan situng, maka yang benar, yang resmi adalah hasil perhitungan secara manual berjenjang. Ini sebenarnya sudah jelas," kata Wahyu.

 

Menurutnya, saat ini proses penghitungan manual berjenjang masih berlangsung. Sehingga tidak bisa disimpulkan apakah ada perbedaan, antara situng dan manual berjenjang. "Semua masih proses, jadi mohon ditunggu hasil pastinya," tandasnya.

 

Sementara itu, Wakil Ketua DPR, Fadli Zon, saat melakukan kunjungan ke KPU mengatakan Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU bermasalah.

 

Legislator asal dapil Jawa Barat ini pun menyarankan agar penghitungan melalui Situng dihentikan agar dapat diambil langkah evaluasi atau menentukan penyelesaian lainnya.

 

"Kalau pendapat saya pribadi, saya merasa bahwa situng itu memang sudah bermasalah, kalau barang yang bermasalah ya sebaiknya dihentikan," ujarnya di KantorKPU, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (3/5).

 

Pria yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Gerindra ini mengatakan, data dalam Situng dapat menimbulkan keresahan di masyarakat. Selain itu, tidak diketahui siapa yang melakukan kesalahan input."Karena ini akan menimbulkan keresahan, toh pada akhirnya yang akan menjadi hitungan itu adalah hitungan manual berjenjang," bebernya.

 

Fadli menyatakan kesalahan input data bukan merupakan sebuah kelalaian. Ia menganggapnya sebagai bentuk kecurangan yang masif.

 

"Bagi saya sih sebetulnya salah input itu adalah salah satu bentuk kecurangan ya, bukan kelalaian tapi kecurangan, karena salah inputnya ini cukup masif," katanya.

 

Ia menyebut sistem teknologi yang digunakan telah maju. Sehingga tidak boleh ada kesalahan dasar saat melakukan penginputan.

 

"Nanti kita lihat siapa yang melakukan ini dengan sengaja, siapa yang membiarkan ini terjadi. Karena kalau sistemik, itu kan seharusnya. Apalagi dengan perangkat teknologi kita yang sudah sangat maju, tidak boleh ada kesalahan yang paling dasar.Saya kira anak-anak sekolahbisa," tutupnya. (khf/fin)






BERITA BERIKUTNYA

loading...