Kejar Aktor Intelektual Skimming Perbankan, Polri Awasi Orang Asing

Selasa, 20 Maret 2018 - 17:21:28 WIB

Aktor intelektual atas kasus skimming ditengarai orang asing, sehingga Polri akan meningkatkan pengawasan terhadap orang asing yang masuk dan sudah berada di Indonesia. (Issak Ramadhan/JawaPos.com)
Aktor intelektual atas kasus skimming ditengarai orang asing, sehingga Polri akan meningkatkan pengawasan terhadap orang asing yang masuk dan sudah berada di Indonesia. (Issak Ramadhan/JawaPos.com)

BANGKO-INDEPENDENT.COM-Kasus skimming yang dialami Bank BRI dan Mandiri menjadi perhatian khusus dari Polri. Agar kasus ini selesai, Polri mengejar aktor intelektual atas pencurian data yang menyebabkan saldo para nasabah bank jadi raib misterius.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, untuk mengugkap kasus ini pihaknya akan menggandeng pihak Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

"Polri akan kerja sama dengna imigrasi untuk meningkatkan pengawasan. Siapa tahu ada orang-orang yang perlu kita waspadai," ujar Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta Selasa (20/3).

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto (Miftahulhayat/Jawa Pos)

 

 

Tak hanya mengawasi, Polri pun melakukan pendataan terhadap orang asing yang sudah berada di Indonesia. "Termasuk mendata yang sudah masuk," imbuhnya.

Di sisi lain, pihaknya terus mendalami soal dugaan aktor intelektual dari kejahatan skimming ini adalah orang dari Eropa Timur. "Pasti nanti akan dikorek terus diteliti lagi," tukas Setyo.

Sekadar informasi, dalam sejumlah kasus kejahatan skimming yang muncul belakangan ini, pelakunya adalah warga negara asing (WNA). Di antaranya tiga WN Rumania berinisial IRI, 26; LNM, 26; ASC, 34; satu WN Hungaria berinisial ASC, 34, dan BKV, 46, WN Bulgaria.

Sindikat itu telah melakukan aksi kejahatan perbankan sejak 2017 lalu di berbagai daerah. Di antaranya Jogjakarta, Bali, Bandung, Lombok, dan Jakarta.

Selain di Indonesia, para tersangka juga menyasar data nasabah di luar negeri seperti Australia, Amerika Serikat, German, Chile, dan Italia.

Setelah mencuri data nasabah, para tersangka kemudian melakukan duplikasi melalui kartu ATM kosong. Setelah itu, sindikat ini mendatangi gerai ATM untuk mengeruk uang di dalam rekening para korban.

(dna/JPC)






BERITA BERIKUTNYA

loading...